Fase grup seperti melakukan laga uji coba. Hasilnya memang kelihatan. Timnas Indonesia U-22 tampak perkasa. Tapi di satu sisi, pertahanan jadi tidak bisa terbentuk karena rotasi pemain yang terlalu radikal.
Rio Fahmi seperti penyanyi one hit wonder. Bagus di laga perdana, tapi karena kena rotasi, performanya malah menurun di laga berikutnya.
Sementara Witan Sulaeman yang diharapkan bisa bangkit kembali malah kembali ke setelan pabrik. Pratama Arhan juga tidak menawarkan apa-apa.
Lini tengah yang harusnya vital malah keseringan dirombak. Hasilnya dalam laga melawan Kamboja kemarin, lapangan tengah Timnas Indonesia U-22 gampang sekali ditembus.
Jika dalam laga lawan Filipina, Myanmar, dan Timor Leste sayap Timnas Indonesia U-22 yang ditembus, saat Kamboja semua lini mudah kena serang.
Timnas Indonesia U-22 juga masih kocar-kacir menerima serangan balik cepat. Pemain juga masih sering tertekan saat sedang membangun serangan dari belakang.
Segala kekurangan ini harus segera diperbaiki. Dan Indra Sjafri sebagai pelatih mungkin sudah mempersiapkannya.
Karena jika masih tetap bermain semacam itu saat melawan Thailand atau Vietnam, maka habislah sudah.
