Latihan bisa menuntut pemain untuk berpikir cepat sesuai dengan situasi. Salah satu metodenya adalah dengan bermain di lapangan yang lebih kecil atau dengan pemain dengan jumlah yang sedikit.
Salah satu bentuk latihan untuk meningkatkan intensitas permainan adalah permainan possession antara 8 orang menghadapi 4 orang. Dengan aturan 8 orang mempertahankan bola, sementara 4 lawannya berusaha merebut. Mirip dengan sepak rondo.
Namun yang ini dihitung berapa kali 4 orang tersebut dapat merebut bola dalam waktu dua menit. Kenapa hanya dua menit? Karena dengan waktu yang terbatas, seorang pemain bisa mengerahkan seluruh kemampuannya.
Ini juga menghindari pemain untuk bersantai-santai. Karena jika butuh stamina yang tinggi jika ingin bermain dalam intensitas tinggi.
Intensitas tinggi tentunya membutuhkan konsentrasi tinggi. Lihat saja bagaimana pemain Argentina yang secara intensif melakukan pressing saat kehilangan bola, masih terjaga fokusnya 100%.
Fokus atau konsentrasi bahkan dinilai oleh banyak pelatih sebagai faktor utama jika ingin memenangkan pertandingan. Bukan soal skill atau kecepatan.
Salah satu metode yang sering dipakai pelatih adalah dengan memberikan “hukuman” bagi pemain yang kedapatan memegang hidung atau rambut saat sedang bermain rondo.
Selain itu fokus juga bisa dilatih dengan menerapkan kebiasaan disiplin. Kapan harus makan, mandi, istirahat, mempersiapkan perlengkapan, dan lain sebagainya.
Faktor kedua yang berpengaruh dalam membentuk intensitas seperti yang diperlihatkan oleh pemain Argentina adalah kompetisi tempat pemain bermain.
Kita paham benar bagaimana kompetisi di Indonesia. Masih jauh dari kata bagus. Sebuah pekerjaan rumah besar untuk memperbaiki semuanya.
Dalam laga kontra Argentina, ada pemain Timnas Indonesia yang intensitasnya menyamai para pemain Argentina.
Siapa lagi kalau bukan kapten Asnawi Mangkualam. Asnawi benar-benar tidak kehilangan fokus pada pertandingan besar tersebut.
Setelah menghalau bola, Asnawi tanpa jeda langsung bangun dan melakukan intersep.