Baru mulai musim 2005, hegemoni klub Pulau Jawa terusik dengan kehadiran Persipura Jayapura dan Sriwijaya FC.
Dua klub tersebut pernah secara bergantian memenangi gelar juara. Jika mau dihitung, Semen Padang juga pernah menjadi perwakilan Pulau Sumatera saat menjuarai IPL musim 2011-2012.
Saat Liga 1 resmi digelar pada 2016, muncul kekuatan baru seperti Bali United. Bali United sendiri pernah keluar sebagai juara Liga 1 dua musim beruntun yakni 2019 dan 2021 (2020 dinyatakan musim resmi dihentikan akibat pandemi).
Klub asal Pulau Kalimantan, Borneo FC juga berkembang menjadi kuda hitam. Sayangnya, baik Bali United ataupun Borneo FC, bagi sebagian pengamat sepak bola fanatik, bukanlah klub asli Pulau Bali ataupun Pulau Kalimantan. Bahkan keduanya terlahir dari rahim yang sama: Persisam Samarinda.
Saat ini memang hanya Pulau Kalimantan saja yang statusnya adalah pulau besar, bahkan terbesar yang belum mengirimkan wakil sebagai juara.
Prestasi tertinggi klub Pulau Kalimantan hanya menjadi runner up musim 1999-2000 lewat PKT Bontang. Namun PKT Bontang sendiri sudah tidak ada dan berganti dengan Bontang FC yang amburadul.
Gugusan pulau-pulau kecil seperti Sumbawa, Maluku, Ternate, Tidore, bahkan tidak pernah terdengar namanya. Namun justru dari pulau-pulau kecil itulah muncul bakat-bakat baru.
Memang, masalah diskriminasi di Indonesia yang memang nyata ada namun tidak semengerikan di Italia.
Tapi menarik juga jika tiap pulau yang ada punya klub dengan kekuatan yang merata. Namun yang terpenting sekarang ini mungkin pembangunan dulu saja yang merata.






