Sudah bukan rahasia Umum lagi jika Panglima Besar Jenderal Soedirman adalah penggemar berat sepak bola. Bahkan pernah aktif sebagai pemain dan punya klub sepak bola yang diberi nama “Banteng Muda”.
Bahkan ada foto lama yang menampilkan sang Panglima Besar tengah menendang bola dalam laga sepak raga (sebutan lama untuk sepak bola) antara PSIM Mataram dengan Polisi pada tahun 1948.
Dan entah secara sadar atau tidak, taktik gerilya yang dilakukan Jenderal Soedirman sebenarnya hampir mirip dengan taktik pragmatis dalam sepak bola.
Walau sebenarnya Jenderal Soedirman lebih memilih untuk gerilya karena sikap kekecewaannya terhadap pemerintahan kala itu yang lebih memilih jalan diplomasi dengan Belanda. Bagi Jenderal Soedirman, lebih baik dibom atom sekalian daripada duduk berunding.
Taktik Gerilya sendiri bukan suatu taktik baru dalam peperangan. Pada masa Perang Paderi di Sumatera Barat atau Perang Aceh, taktik gerilya seperti memecah pasukan, menyergap musuh, dan melakukan sabotase kerap dilakukan.
Dalam taktik ini, ada kesadaran jika secara jumlah dan kualitas sudah kalah jauh dari lawan. Seperti persenjataan ataupun jumlah. Maka taktik memukul cepat, menyergap, sabotase, lebih cocok dilakukan untuk menutupi kekurangan ini.
Di sepak bola, orang-orang tentunya mendambakan laga yang menghibur. Penuh dengan teknik tinggi. Dan kedalaman skuat yang merata. Namun tidak semua tim punya kemewahan dalam hal ini. Maka, taktik pragmatis kerap digunakan untuk menghadapi tim yang secara kualitas jauh di atas.
Taktik gerilya Jenderal Soedirman yang diam menunggu gerakan musuh dalam kegelapan malam, bisa jadi terinspirasi atau malah menginspirasi taktik serangan balik.
Dalam taktik serangan balik, tim menunggu lawan untuk melakukan kesalahan lantas langsung menyergap dengan serangan cepat.
Namun bukan berarti taktik gerilya dan taktik pragmatis ini minim inovasi. Dalam medan perang yang kerap berubah, inovasi dan improvisasi wajib dilakukan.
Skema variasi umpan pendek-panjang, melindungi tiap area, serta memanfaatkan lebar lapangan menjadi hal yang wajib dikuasai. Dan hal yang paling utama dalam taktik perang gerilya dan taktik pragmatis sepak bola adalah disiplin dan tekad.
