Tapi soal peluang, Indonesia unggul dengan 10 tembakan (3 di antaranya mengarah ke gawang), sementara Thailand 7 kali melakukan tembakan 1 di antaranya mengarah ke gawang (yang kemudian jadi gol).
Dari statistik itu sudah terlihat jelas bagaimana Shin Tae-yong mengdikte permainan penguasaan bola racikan Alexandre Polking.
Bagaimana bisa tim yang menguasai bola lebih banyak, kalah dalam jumlah peluang? Hal ini baru Thailand jumpai ketika melawan anak asuh Shin Tae-yong.
Di awal babak kedua, STY menginstruksikan pemain untuk langsung melakukan tekanan sebelum Thailand mendapatkan momentum.
Lewat serangan cepat, tembakan Asnawi Mangkualam mengenai tangan pemain Thailand yang kemudian berbuah hadiah penalti. Marc Klok berhasil mengeksekusinya dengan baik, Indonesia unggul 1-0.
Kartu merah yang pemain Thailand dapatkan di menit Senrawat Dechmitr adalah keberhasilan taktik Shin Tae-yong.
Ketika Indonesia berhasil merebut bola, dua sayap cepat Timnas Indonesia akan dengan lincah mencari celah yang ditinggalkan para pemain Thailand yang sudah terpancing keluar.
Sayangnya menjelang laga berakhir, para pemain kehilangan konsentrasi yang berakibat fatal. Padahal, sebelum pertandingan, STY sudah menginatkan para pemainnya untuk santai dan tidak hilang konsentrasi.
“Secara perlahan, persoalan ini kita terus perbaiki. Tidak hanya mengenai finishing saja. Masalah lainnya seperti konsentrasi atau fokus para pemain dalam setiap pertandingan juga penting untuk diperhatikan,” tutur STY, sebelum laga.
Ya, di laga ini, Indonesia kembali mempertontonkan lemahnya penyelesaian akhir.
Di luar skor, secara taktikal, Shin Tae-yong menang!






